Ini hari pertamaku mengajar di smu di desa. Sesuai kebijakan depdik
di kabupaten, penugasanku ada di desa ini. Tidak banyak persiapanku dari
tempat kost, selain motorku yang klasik musti tidak rewel hari ini.
Setelah sukses mencoba start dan memanasinya, aku meluncur di jalan
makadam depan kost. Sampai jalan besar, tidak terlalu ramai seperti kota
asal tempatku.
Sampai depan sekolah, mulai terlihat
murid2 yang culun2 memasuki sekolah sambil melirik kedatanganku dengan
pandangan bertanya maupun sambil berbisik. Entah karena tampilanku atau
motorku. Setelah memarkir motor, mengunci kemudi dan helmku di kursi.
Aku melangkah tegap ke ruang kepala sekolah. Sudah 1 minggu kami
berbincang, tentang tugas di sini, sekarang saatnya mengucapkan salam di
hari rabu ini pada beliau, sebelum memulai hari pengajaranku.
-
Pagi Bu Rima - salamku sambil mengetuk pintu- Ah, masuk mas eh pak.
Sekarang biasakan dipanggil Bapak aja ya.- Silahkan duduk - ujarnya
sambil berdiri dan menunjuk ke kursi panjang di ruangannya.
Kemudian
kepala sekolah mulai ikut duduk dan tersenyum senang janjiku menemuinya
sebelum mengajar terlaksana. Lalu, pembicaraan membosankan mulai
datang, basa basi tentang hari hari pertama mengajar mulai terucap.
Sampai akhirnya ...
- Permisi Bu, Ruang di 2C sudah bisa
digunakan ?
Terdengar suara merdu wanita, yang muncul di
depan pintu ruang kepsek.
- Ya, Bu Made, catnya sudah
kering sejak senin lalu.- Bu Made, ini perkenalkan guru fisika yang baru
- ibu kepala sekolah memperkenalkan pada wanita cantik di pagi ini di
pintu ruangannya.
Setelah berdiri mengucapkan namaku dan
menjulurkan tangan, Bu Made tersenyum ramah padaku
-
Mengajar di kelas mana pagi ini pak ?- Di kelas satu tiga. Kata Ibu
Rima, kelasnya paling ujung dekat sawah.- Bu Rima, saya permisi dahulu,
ke ruang tata usaha, mengurus rutinitas dulu ...- Ya, ya silahkan ...
semoga lancar, semoga betah di sini ya ...- Baik, terima kasih Bu ...
Kutinggal
mereka berdua di ruang kepala sekolah, kutinggalkan untuk mengurus
absensi dan mendengarkan obrolan pagi di ruang guru.Setelah bel
berbunyi, Pak Joko, guru olah raga telah siap dengan trainingnya mulai
melangkah ke luar ruangan diikuti guru matematika dan yang lain.Terlihat
semua guru2 di sini memiliki semangat mengajar yang bagus, dari obrolan
tadi mereka antusias dengan siswa didik mereka. Saat melangkah menuju
kelasku yang ternyata laing jauh, satu persatu aku melirik ke tiap
ruangan yang sudah pada tertib, dengan guru di depan ruangan mulai
mengabsen kehadiran murid2nya.
Memasuki kelasku, aku mulai
merasa ragu2... murid2 di kelasku trlihat lugu, polos, tertib, tidak
seperti jaman sma ku dulu. Wah, beda jauh dengan kenakalan kami.
-
Selamat Pagi Paaak .. - hampir kompak mereka menyapa
Tersenyum,
aku mulai mengajar dengan caraku, meskipun sesuai dengan kurikulum,
tetapi cara belajarku pasti beda dengan yang mereka bayangkan.Tidak ada
absensi. Kalo gak suka pelajaran, diluar saja. Boleh didalam asal tidak
berbuat onar. Boleh tidur, asal jangan mendengkur. Dan macam2 kebiasaan
yang pernah kurasakan saat sekolah dulu ... terlampiaskan pada mereka.
Ah senang rasanya hati ini.Sampai pada saat kulempar penghapus papan
tulis ke atas hingga memantul, terlihat mereka mulai paham dengan awal
materi yang kuajarkan.Hingga saat kulenggangkan waktuku membiarkan
mereka menyalin tulisan di papan, kuperhatikan mereka satu2.
Ada
yang cantik 2 - 3 orang, di depan kelas dan di pinggir kelas. Ada yang
selalu melirikku saat menulis dan tersenyum padaku. Yang menguap pun
ada, terlihat kurang tidur sepertinya. Yang kukenal hanya dua, gadis
yang di tengah, putri pak lurah, yang menunjukkan tempat kost yang
akhirnya kusewa, dan temannya gadis cantik di sebelahnya. Mereka kutemui
saat bertamu ke rumah pak lurah, atas saran Bu Rima, kepala sekolah.
Setelah
memberikan beberapa materi lagi, bel ganti pelajaran berbunyi, dan
berlanjut ke kelas lain ... sampai akhirnya saatnya pulang.
Sebelum
motorku mulai kunyalakan, Bu Made dan Pak Didit telah disampingku.
-
Pak, sekalian untuk acara ramaha tamah, sore nanti bisa ke rumah saya
kan ? Guru2 yang lain juga akan datang setelah ashar.- Baik Bu Made,
nanti saya ke sana, semoga tidak kesasar.- Nah, sekalian saja Bu Made
ikut dengan Bapak pulangnya ini, kan bisa tahu sendiri rumahnya. - kata
Pak Didin, guru kesenian.- Ya tidak papa Bu, saya boncengin ke rumah,
kalo tidak keberatan- Oh ya, terima kasih kalau begitu, sebentar, saya
ambil tas dulu ... - kata Bu Made sambil membalik badan- Pak Didin
tinggal di mana ? - tanyaku sambil melihat sepeda klasik jaman belanda
yang di pegangnya.- Dekat kok Pak, yuk, saya duluan ...
Di
jalan, Bu Made diam saja, berbicara hanya pada saat menunjukkan arah ke
rumahnya.
- Bu Made tinggal berdua dengan suami sekarang ?
- tanyaku basa basi- Tidak Pak, suamiku sudah 3 tahun TKI di taiwan,
jadi tukan masak di sana.- Hanya dengan momongan saja di rumah ? -
lanjutku- Belum punya Pak, mungkin belum saatnya - kemudian Bu Made
mulai bercerita tentang suaminya dan lain2 ...
Sesampai di
depan rumahnya, terlihat rumah kecil di pinggir jembatan dengan luas
halaman yang lebar untuk pohon2 mangga. Tinggal sendirian tapi sanggup
merawat halaman segini luas ? rumahnya memang tidak besar, tetapi ...
-
Mampir Pak, sekedar minum air dingin mungkin- Baik Bu - sambil kudorong
motorku kesamping rumahnya, ke samping motor bebek merah yang sudah
parkir lama di situ, terlihat debu tebalnya tidak ikut dibersihkan saat
membersihkan halaman rumah ini.
Di ruang tamu aku
menyandarkan badan, melihat sekeliling ruangan dan foto2 keluarga.Saat
Bu Made kembali membawa nampan dan gelas berisi es dan air sirup, Bu
Made berpamitan mengganti pakaian dahulu sebelum ikut duduk
ngobrol.Sesaat membungkuk menaruh gelas di meja, aku mencuri pandang
pada belahan dadanya yang membusung ... indah.Sendirian lagi di ruang
tamu pikiranku mulai ke mana2 sekarang. Dengan macam2 pengalaman kota di
desa yang sepi ini, aku mulai memutar otak sambil meminum air sirup di
gelas ini.
Saat Bu Made kembali, aku sedang berdiri
memandang foto di atas kursi panjang. Sambil menunjuk, aku bertanya,
-
Mereka juga tinggal di sini ?- Oh, mereka tinggal di seberang sungai,
saya sendirian dengan Bude Win.- Bude Win yang ini ? - tanganku ganti
menunjuk foto kecil wanita bergandengan dengan Bu Made.- Ya, nanti sore
baru kemari, sekarang masih di seberang sungai tempat adik.
Hmm
adiknya juga tak kalah cantik, jika seperti di foto tadi.Saat
kumembungkuk melihar foto lain di etalase, terlihat kembali belahan dada
Bu Made yang ikut membungkuk di sebelahku terpantul dari piring perak
dalam etalase ruangannya. Lama ku menatap pandangan itu, sampai aku
melihat pandangan matanya yang ikut terpantul, menatapku, kemudian
melirik arah pandanganku. Sigap dia berdiri sambil tersenyum, merona
semu merah wajahnya.
- Indah kok. percayalah - ujarku ikut
berdiri sambil memandangnya- Ah, Bapak ini, sperti apa kalau ..-
Percayalah, anda cantik - berhadapan dengan Bu Made, kupegang kedua
lengan atas sikunya.- Tidak sepatutnya suami anda menyia nyiakan wanita
cantik dan berbadan bagus seperti anda di sini sendirian ... - mata Bu
Made mulai terlihat kosong- Jika saja anda mendapatkan apa yang anda
inginkan saat sendiri di malam hari - kudekatkan wajahku
Pandangannya
seperti tidak melihatku, ada sesuatu di situ ... kuteruskan usahaku
-
Seumpama setiap malam ada yang mengucapkan selamat malam sambil
menemani malam anda ... - bibirku telah mendekat wajahnya
Kugeser
sedikit, mulai kedekati telinga kirinya, dan perlahan berbisik
-
Seandainya ada yang menucap ... aku sayang kamu yang cantik ini ...
Kali
ni kucium telinganya, kuhisap dengan lembut sambil merangkul memeluk
tubuhnya, kulirik jendela kecil di ruang tamu ... terlihat dari belakang
dia mengangkat kepalanya dan kedua tangannya mulai mendekap kepalaku.
-
Pak ... - lirihnya
Kubimbing perlahan wanita ini ke ruang
dalam, menyibak kain antar ruang tamu dan tengah, akhirnya kusampai
pada ruang tv, meja makan dan beberapa pintu ruang kamar. Sambil memeluk
dan saling memagut leher dan bawah telinga masing2, kuarahakan wanita
ini ke ruang pintu yang terbuka. Sekilas terlihat tempat tidur dan
seragam guru yang dikenakannya tadi di samping tempat tidur.Sesampai di
kamar tidur, kulepaskan pelukanku dan kupandang wajahnya yang terpejam.
Kuraih dan kuangkat keuda jemari tangannya ke arah kepala dan menuju
rambutnya, hingga dadanya terliaht membusung menantangku mengecupnya.
Segera saja kebenamkan wajahku pada tengah belahan dadanya dan kembali
wanita ini meraih kepalaku dan mengusap kepalaku beserta rambut cepak
miliku.
Kuraih buah dada kirinya dengan tangan kananku,
sementara bibirku telah melumat dadanya yang kanan. Tangan kiriku mulai
menarik ke atas baju terusan yang dikenakannya hingga tangan kiri kini
dapat meremas dadanya tanpa terhalang bajunya. Tangan kananku pun kini
ikut meremas dada kirinya setelah ikut menarik bajunya ke atas. Dengan
inisiatifnya sendiri Bu Mande mananggalkan bajunya melalui kepalanya.
saat melepas bra sambil terus kuremas2 kedua dadanya, wanita ini miring
dan kehilangan keseimbangan hingga terjatuh ke dipan di
belakangnya.Setelah sekian lama memagut,
- Aahhh - rintih
wanita ini saat kumulai mencumbu perutnya hingga perlahan ke bawah.
Perlahan
kedua tangannya ikut meremas dadanya, saat tanganku mulai turun menarik
lepas celana segitiga berkain tipis yang dikenakannya.Saat mencium,
mengusap pangkal pahanya dengan lidahku, kini pakaianku pun telah ikut
lepas, hingga terlihat pusakaku menegang menyentuh tepi tempat
tidur.Waktu yang tepat untuk menarik tubuhnya ke tepi tempat tidur,
hingga pangkal pahanya tepat bersentuhan dengan pusakaku.
Dengan
sidikit melirik ke tepi tempat tidur, wanita ini mulai merasakan
gesekan di sekitar pangkal pahanya yang dilakukan pusakaku.
-
Terusss maasss masukin mass
Telah berubah panggilanku
sekarang, tidak terlalu tua rasanya sekarang di panggil mas olehnya ...
Hingga saatnya kumasukan kapala pusakaku perlahan kedalam lubang di
pangkal pahanya. Ia merintih, menahan nafas sebentar, kemudian meremas
kasur di dipan. Saat itulah mulai terasa sesnsasi hangat menjepit dan
menghisap yang teramat nikmat kurasakan pada pusakaku yang semakin dalam
melaksanakan tugasnya.Kutarik perlahan, kubenamkan lagi. Kulakukan
berulang- ulang dan semakin cepat hingga ...
- AAAhhh -
wanita ini mengejang dengan hebat, melampiaskan apa yang diinginkan
salama ini, setelah berlama lama menunggu
Saat kumiringkan
badannya, dan kembali memompa bawah tubuhnya, terdengar suaranya lirih
...
- Jangan buru-buru ya mass ... aarghh ... kembali ia
menikmati gerakanku di bagian bawah perutnya.
Wanita ini
ikut bergoyang, maju mundur, kiri kanan, dan semakin cepat. Hingga ia
mengangkat kakinya melebarkan pangkal pahanya, yang kemudian diiringi
erangannya
- aaarrrghhh - diikuti goyangan cepatku dan
tubuhnya yang mengejang kembali hingga otot di betisnya ikut bergetar
...
Kuhentikan gerakan kami sesaat, hingga ia merenggut
pahanya dan mengajakku duduk di atas dipan. Dengan melangkahkan paha
kakinya melebar, pangkal pahanya telah bersentuhan lagi dengan pusakaku
di posisi dudukku di bawahnya di pinggir dipan ini. Dengan yakin ia
membimbing masuk ke dalam bawah perutnya, pusakaku mulai berselimut
basah di dalam lubang pangkal pahanya. Dengan gerakan perlahan tapi
pasti ia mulai mengangkat pantatnya dan menurunkannya. Membuat pusakaku
kembali bergesekan nikmat di sekitarnya. Semakin cepat gerakannya hingga
ku sadari hampir tiba waktuku. Tetapi ...
- Tunggu massss
!! - jeritnya tertahan sambil menggesekan duduknya maju mundur di atas
bawah perutku, membuat kuterpejam menahan sesaat ...Bebrapa waktu
berlalu ...- AArrrghhh maaaaasssss - kecepatan gesekannya dan tegang
pahanya diakhiri kejangan sesaat, membuatku ingin segera mancapai
puncakku.
Kubanting tubuhnya kesamping dan kuangkat
tinggi2 pahanya sambil kusandarkan pada kedua bahuku, kubenamkan
pusakaku dengan cepat dan ganas kebawah perutnya hingga ...
-
Ayo mas ... sekarang masss ... - rintihnya sambil mendesah, membuatku
iramaku semakin cepat, hingga
- AEGGHH !! pekikku tertahan
saat kucapai puncakku tepat di saat kutarik keluar pusakaku hingga
cairan hangat kental putihku menyembur ke atas tubuhnya, hingga dagu dan
mulutnya.
Wanita ini tersenyum bahagia saat kupeluk
dirinya.
- Belum pernah mas, aku merasakan hal yang
seperti ini. Suamiku biasanya biasa saja untuk urusan seperti ini.
Apalagi sejak ditinggal ke luar negri ...- Mas, aku mulai senang dengan
adanya mas sekarang.
Percakapan kecil terjadi setelah
pergumulan tadi, dan terucap dirinya terpuaskan berkali kali tadi.
Sambil melirik jam dinding, kuingatkan Bu Made untuk bersiap-siap dengan
acara ramah tamah guru2 nanti sore di sini. Seolah tak ingin
melepaskanku, Bu Made mulai mencumbu dan mencium tubuhku hingga bawah
pusarku.
Sambil menarik kepalanya dengan lembut,
kubisikkan
- Sayang, bagaimana kalau kelanjutannya nanti
malam saja ... - kuakhiri ucapanku dengan ciupan hangat di bibirnya
Akhirnya,
kuakhiri siangku bergumul di rumah Bu Made, dengan janji untuk
meneruskannya malam nanti. Bude Win yang masih di rumah adik Bu Made
dicegahnya malam ini untuk pulang dengan alasan acara guru2 yang hingga
malam.
Sore setelah mandi di kost dan kembali ke rumah Bu
Made ikut beramah tamah, dengan para guru2, kudapati ada beberapa guru
wanita cantik yang kucatat dalam benakku untuk mencoba berselingkuh
dengan mereka. Ada yang sudah menjanda tapi belum sampai 25 tahun
umurnya, ada yang sering ditinggal dinas suaminya ke kota, ada juga yang
lain.Yang cantik2 akan kucoba dahulu kapan-kapan, karena malam ni aku
bakal bersama wanita cantik yang sering tersenyum menatapku di kursi
ruang tamunya ...
Semoga ... hari2 penugasanku di desa ini
yang jauh dari kota, bakal membuatku betah ...







0 komentar:
Posting Komentar